Anggota DPRD Kabupaten Kotawaringin Barat dari Fraksi PDIP, Mirza Alfathi./FOTO: ist
KOTAWARINGIN BARAT, SNews – Memasuki usia ke-423 tahun, Kecamatan Kotawaringin Lama kembali diingatkan sebagai salah satu kawasan paling bersejarah di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar).
Namun di balik jejak panjang sejarahnya, pembangunan di wilayah yang pernah menjadi pusat pemerintahan tersebut dinilai masih membutuhkan perhatian lebih serius dari pemerintah daerah.
Sorotan itu disampaikan Anggota DPRD Kabupaten Kotawaringin Barat dari Fraksi PDIP, Mirza Alfathi. Menurutnya, Kotawaringin Lama bukan sekadar kecamatan tertua di Kobar, tetapi juga saksi lahirnya berbagai peristiwa penting yang membentuk identitas daerah hingga saat ini.
“Ketika usia Kotawaringin Lama mencapai 423 tahun, kita perlu mengingat bahwa wilayah ini pernah menjadi pusat pemerintahan sebelum akhirnya dipindahkan ke Pangkalan Bun. Status tersebut menunjukkan betapa penting dan strategisnya Kotawaringin Lama dalam sejarah Kobar,” kata Mirza.
Ia menilai, nilai historis yang dimiliki Kotawaringin Lama seharusnya berjalan seiring dengan percepatan pembangunan. Pasalnya, kawasan di tepian Sungai Lamandau dan Sungai Arut itu menyimpan banyak bukti perjuangan masyarakat dalam mempertahankan kemerdekaan, sejarah berdirinya Kotawaringin Barat, hingga jejak penyebaran Islam melalui keberadaan makam Kyai Gede.
Menurut Mirza, kerinduan masyarakat terhadap pembangunan sudah lama terasa. Karena itu, ia mendorong sejumlah program strategis agar masuk dalam daftar prioritas pemerintah daerah.
Salah satu yang menjadi perhatian utama adalah peningkatan infrastruktur jalan yang perlu disinergikan antara Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah.
Konektivitas yang baik diyakini menjadi kunci dalam membuka akses ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Selain itu, Mirza juga menyoroti pentingnya merealisasikan rencana pembangunan kawasan waterfront city yang sebelumnya telah dikaji oleh Bapperida Kobar.
Konsep tersebut dinilai mampu mengoptimalkan potensi kawasan tepian sungai sebagai destinasi ekonomi dan pariwisata baru yang berdampak langsung bagi masyarakat setempat.
Tak kalah penting, pelestarian warisan budaya juga menjadi fokus yang harus mendapat perhatian. Kotawaringin Lama memiliki aset sejarah berharga berupa Istana Al Nursari, yang menjadi saksi berdirinya Kesultanan Kutaringin dan pernah menjadi kediaman keluarga kesultanan.
“Istana Al Nursari memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi. Bangunan ini merupakan peninggalan penting Kesultanan Kutaringin yang dibangun pada masa Pangeran Paku Sukma atau Sultan Kutaringin ke-12,” ujarnya.
Di momentum hari jadi ke-423 ini, Mirza berharap Kotawaringin Lama tidak hanya dikenang sebagai wilayah bersejarah, tetapi juga mampu tumbuh menjadi kecamatan yang maju, berkembang, dan memberikan kesejahteraan bagi seluruh masyarakatnya.
“Dirgahayu ke-423 Kotawaringin Lama. Semoga pembangunan semakin meningkat dan masyarakatnya semakin sejahtera,” tutupnya.


Comment