Mobil ambulance sudah menjadi rumah kedua bagi Santoso selama lebih dari satu dekade ini./FOTO: ist
SAMARINDA, SindoNews.co – Mobil ambulance sudah menjadi rumah kedua bagi Santoso selama lebih dari satu dekade ini.
Di balik kemudi, pria yang akrab disapa Paman ini bukan sekadar sopir. Ia adalah saksi bisu dari ratusan perjalanan terakhir manusia, pengantar harapan bagi pasien yang harus rutin kontrol ke rumah sakit, hingga relawan tangguh yang menembus reruntuhan bencana.
Sejak bergabung dengan Yayasan Rumah Zakat Cabang Samarinda pada 2013, jalanan aspal adalah rumah keduanya. Paman sering kali harus mengantar jenazah hingga ke luar pulau, menempuh jarak ratusan kilometer dengan mata yang menolak terpejam. Meski layanan ambulans itu gratis, realitas di lapangan kerap menampar nuraninya.
Tak jarang keluarga pasien yang ia antar sama sekali tidak memegang uang, bahkan sekadar untuk membeli nasi bungkus di perjalanan.
Di momen-momen sunyi itu, tangan Paman merogoh saku pribadinya. Ia berbagi jatah makannya, membiayai kebutuhan mendesak keluarga pasien, kendati ia sendiri bukanlah orang yang berlimpah harta.
“Syukurnya saya sering dibantu oleh para dermawan juga. Jadi bantuan itu saya sampaikan lagi ke mereka yang membutuhkan,” ucap Santoso mengenang masa-masa aktifnya.
Tahun 2024 menjadi titik balik. Usia memaksanya untuk pensiun secara formal dari yayasan. Bagi banyak pekerja, pensiun sering kali menjadi momok menakutkan tentang hilangnya pendapatan dan ketidakpastian hari tua. Namun, bagi Santoso, kecemasan itu teredam berkat satu keputusan administratif yang telah lama diambil pemberi kerjanya: mendaftarkannya sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan.
Saat Surat Keputusan pensiun turun, Santoso teringat pada Jaminan Hari Tua (JHT) yang selama ini dipotong dari upahnya. Bayangan tentang birokrasi rumit sempat melintas.
Namun, ketika kakinya melangkah ke Kantor Cabang BPJS Ketenagakerjaan Samarinda, ia justru diarahkan ke sudut digital, bukan tumpukan berkas. Ia hanya diminta membuka ponsel, dipandu petugas keamanan mengunduh aplikasi JMO (Jamsostek Mobile), dan melakukan verifikasi wajah melalui panggilan video.
Proses itu berjalan senyap dan cepat. Santoso hanya diminta menunggu masa jeda satu bulan setelah berhenti bekerja sesuai regulasi. Tak lama berselang, notifikasi bank di ponselnya berbunyi. Dana sebesar Rp15 juta hasil akumulasi iurannya selama bekerja cair utuh ke rekening.
“Uangnya saya terima utuh. Tahun lalu itu karena tidak tahu, saya diajari Pak Security. Ternyata mudah sekali,” kenang Santoso, saat berbincang dengan awak akhir bulan November lalu.
Uang itu tidak ia gunakan untuk berfoya-foya. Seluruhnya ia serahkan kepada istri dan kedua anaknya sebagai bekal penyambung hidup pasca-pensiun. Bagi Santoso, cairnya dana JHT itu memberikan ketenangan batin. Rasa aman secara finansial itulah yang justru membuatnya enggan berhenti mengabdi.
Alih-alih menikmati masa pensiun dengan duduk diam, Santoso justru semakin “gila” bekerja sosial. Ia membentuk Komunitas Berbuat Saja (Kombes), sebuah wadah kolektif bersama musisi muda Samarinda. Bermodal gitar di tangan dan suara khas menyanyikan lagu-lagu Iwan Fals, ia mengamen. Rupiah demi rupiah yang terkumpul disalurkan untuk membiayai anak yatim piatu dan kaum dhuafa setiap bulannya.
Dedikasi ini bahkan membuat Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur menitipkan satu unit ambulans kepadanya untuk terus melayani umat.
Kisah Santoso adalah satu dari ribuan cerita kebermanfaatan yang terjadi di Samarinda. Apa yang dialami Paman Santoso bukanlah anomali, melainkan bukti berjalannya sistem perlindungan sosial yang masif.
Data BPJS Ketenagakerjaan Cabang Samarinda menunjukkan lonjakan realisasi klaim yang signifikan.
Hingga 30 November 2025, total pembayaran manfaat klaim yang telah disalurkan mencapai angka fantastis, yakni Rp264,2 miliar untuk 21.185 kasus. Dari jumlah tersebut, Jaminan Hari Tua (JHT), program yang dinikmati Santoso, mendominasi dengan total pembayaran mencapai Rp227,3 miliar untuk 17.408 kasus. Angka ini menegaskan bahwa tabungan pekerja benar-benar kembali kepada mereka di saat yang paling dibutuhkan.
Kepala Cabang BPJS Ketenagakerjaan Samarinda, Murniati, mengungkapkan bahwa besarnya angka klaim ini berbanding lurus dengan upaya agresif pihaknya dalam memperluas kepesertaan. Transparansi saldo dan kemudahan klaim lewat aplikasi JMO menjadi kunci kepercayaan publik.
“Kami ingin pekerja tahu bahwa uang mereka aman dan mudah diakses. Kendala kami saat ini hanyalah literasi digital. Masih banyak pekerja yang baru peduli saldonya saat berhenti kerja. Makanya kami jemput bola, turun ke pabrik-pabrik, bahkan buka layanan hari Sabtu untuk mengajarkan penggunaan JMO,” ungkap Murniati.

Peringatan HUT ke-48 BPJS Ketenagakerjaan
BPJS Ketenagakerjaan memasukinusia ke-48 tahun ini. Lembaga yang berdiri bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk melindungi pekerja Indonesia dari risiko hidup yang tak terduga.
Perjalanan panjang ini hanya mungkin terjadi karena ada rekan-rekan karyawan yang setiap hari menggerakkan roda perlindungan sosial, melayani peserta dengan ketulusan, dan menjaga kepercayaan publik terhadap lembaga ini.
Tema HUT “Satukan Energi Sejahterakan Pekerja” sejatinya tidak hanya ditujukan kepada pekerja eksternal yang kita layani, tetapi juga kepada setiap insan yang bekerja di dalam organisasi ini. Kita adalah pekerja yang menjalankan misi perlindungan sosial, dan seperti pekerja lain, kita pun butuh perlindungan, dukungan, dan ruang untuk berkembang.
“Talenta sebagai Fondasi Utama Organisasi Dalam setiap transformasi besar, dari digitalisasi layanan hingga peningkatan tata kelola, karyawan adalah fondasi yang menentukan keberhasilan organisasi. Kita sering menyebut teknologi, prosedur, dan struktur sebagai pilar layanan publik modern. Namun sebenarnya, pilar yang lebih kuat adalah mereka yang menjalankan semua itu: para Talenta di cabang, di pusat, di daerah, di garda pelayanan, di ruang analitik, dan di seluruh lini,” tutupnya.


Comment